Target Zero TPA Cimahi Dinilai Terlalu Prematur, TPST Masih Banyak Evaluasi

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Target Zero TPA Cimahi Dinilai Terlalu Prematur, TPST Masih Banyak Evaluasi

REDAKSI
Senin, 18 Mei 2026


KOTA CIMAHI — Pemerintah Kota Cimahi kembali memasang target ambisius dalam penanganan sampah melalui skema pengolahan terpadu menuju zero to TPA. Namun di balik optimisme tersebut, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak persoalan mendasar yang belum sepenuhnya tuntas, mulai dari fasilitas yang belum optimal, sistem yang masih tahap uji coba, hingga ketergantungan pada bantuan pemerintah pusat dan lembaga internasional.

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, mengungkapkan bahwa percepatan pengelolaan sampah menjadi pembahasan utama dalam rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga yang digelar di Warung Upnormal, Senin (18/5/2026).

Pertemuan tersebut melibatkan sejumlah pihak strategis, di antaranya Westbank ISWMP, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Bappenas, hingga Kementerian PUPR.

“Saya hari ini melaksanakan kegiatan yaitu diskusi rapat koordinasi tentang pengolahan sampah yang ada di Kota Cimahi agar segera bisa terselesaikan,” ujar Ngatiyana di MPP Cimahi.

Meski koordinasi lintas sektor terus dilakukan, kondisi di lapangan memperlihatkan bahwa dua fasilitas utama pengolahan sampah milik Kota Cimahi, yakni TPST Sentiong dan TPST Lebak Saat, masih belum bekerja maksimal. Kedua fasilitas tersebut hingga kini masih berada dalam tahap uji coba dan belum mampu mencapai performa sesuai target awal pemerintah.

Ngatiyana mengakui bahwa TPST Sentiong dan Lebak Saat masih menjadi bahan evaluasi Pemerintah Kota Cimahi.

“Alhamdulillah kita maksimalkan program yang telah berlangsung, tetapi ada juga sebagai bahan evaluasi terhadap TPST Sentiong dan juga Lebak Saat. Yang mana selama ini masih uji coba ya, belum maksimal,” katanya.

Pemerintah Kota Cimahi kini menggantungkan harapan pada pengadaan mesin baru untuk TPST Sentiong yang dijadwalkan datang pada Juli mendatang. Mesin tersebut diklaim mampu meningkatkan kapasitas pengolahan hingga 85 ton sampah per hari, sementara TPST Lebak Saat tetap beroperasi dengan kapasitas sekitar 10 ton per hari.

“Yang akan datang mungkin di bulan Juli ini akan datang juga yaitu mesin yang baru. Yang baru dilelang dulu nanti bulan Juli, sehingga nanti Sentiong itu mesinnya lebih bagus,” ujar Ngatiyana.

Namun kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa sistem pengolahan sampah Kota Cimahi masih sangat bergantung pada pembaruan teknologi dan dukungan eksternal. Bahkan, pemerintah juga berencana memasang mesin pengolahan kecil berkapasitas lima ton di sejumlah wilayah sebagai upaya desentralisasi pengolahan sampah.

“Sehingga nanti kita kejar semuanya nih pengolahan sampah dengan sasaran zero to TPA,” katanya.

Target besar tersebut juga dibarengi dorongan perubahan pola pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga melalui pemilahan sejak dari sumber. Akan tetapi, implementasi kebijakan pemilahan sampah di masyarakat selama ini masih menjadi tantangan klasik yang belum sepenuhnya berhasil dijalankan secara konsisten.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Cimahi juga akan menerima bantuan armada operasional dari Kementerian PUPR untuk mendukung sistem pengangkutan dan pengolahan sampah. Bantuan itu meliputi dump truck, kendaraan pick up, motor sampah, hingga wing box.

Menurut Ngatiyana, bantuan tersebut terdiri dari sekitar 36 unit pick up, 32 motor sampah, serta dua unit wing box.

Meski penambahan armada dinilai dapat memperkuat operasional, tantangan berikutnya adalah kesiapan sistem dan sumber daya manusia di tingkat daerah untuk mengelola lonjakan fasilitas dalam waktu bersamaan.

Tak hanya itu, proyek pengolahan sampah di Cimahi juga memasuki tahap penting berupa proses serah terima aset dari pemerintah pusat dan World Bank kepada Pemerintah Kota Cimahi. Proses tersebut mencakup fasilitas dan mesin pengolahan sampah di TPST Sentiong dan TPST Lebak Saat.

Ngatiyana menegaskan bahwa seluruh aset yang diserahkan harus berada dalam kondisi siap pakai dan bebas dari kerusakan teknis.

“Sehingga kami harapkan penyerahan aset dari Pemerintah Pusat maupun dari World Bank kepada Kota Cimahi harus dalam keadaan siap pakai. Baik itu mesinnya maupun bangunannya,” katanya.

Di tengah target ambisius menuju zero to TPA, tantangan terbesar Kota Cimahi kini bukan sekadar menambah kapasitas atau menerima bantuan fasilitas. Persoalan utamanya adalah memastikan seluruh sistem benar-benar berjalan efektif dan berkelanjutan, bukan hanya bertumpu pada proyek uji coba, bantuan eksternal, serta janji optimalisasi yang belum sepenuhnya terbukti di lapangan. (Red)